Hai semuanya! Jumpa lagi dengan saya sang komikus sukses gagal!😄

Iseng ga tau mau ngapain, mending kita update saja blog ini daripada terlantar. Walaupun rada aneh, yasudahlah.. 

Agak menyambung dari postingan sebelum ini mengenai ingatan pertama saat masih kecil, sekarang saya lagi pengen mengingat-ngingat masa lalu, terutama dengan sejarah kepemilikan binatang peliharaan. Sejarah? Yup! Karena sejak masih kecil peliharaan saya sangat beragam dan berganti-ganti, dan sempet vakum.

Dalam ingatan pertama saya yang masih bisa dikonfirmasi ke-valid-annya, binatang peliharaan yang pertama saya miliki adalah KELINCI. Yap. Sepasang kelinci-yang-sepertinya-bermotif-noda-hitam. Ada sih fotonya di rumah, kalo ga salah lagi nyuapin kangkung. Tapi yang ini ga terlalu membekas sih, maklum masih batita😀

Yang kedua yang saya ingat adalah kira2 pas masih SD awal adalah BURUNG MERPATI. Kalo ga salah waktu lagi booming pelihara burung merpati dan ortu saya ngikut beli. Eh apa engga ya? *lupa* yaaa intinya saya jadi punya 2 pasang burung merpati yang dinamakan King, Queen, Prince dan Princess (oke, saya tau namanya parah sekali).

Baru berapa minggu King pergi meninggalkan Queen untuk selamanya, dan akhirnya demi  dirinyalah (ato gara-gara saya yang ribut? Entahlah :P) ortu saya akhirnya membawa pulang merpati putih bercorak kuning gagah yang pantas menyandang nama Kaisar. (sayangnya pas besok selese dimandiin, warna kuning kerennya luntur. Ternyata kuning keren itu CAT. Namanya tetep sih, ga diganti.)

Selama beberapa bulan, saya sangat senang bermain dengan para merpati. Kedua pasangan itu juga sempet menghasilkan telur beberapa kali, walopun cuman 1 yang sukses menetas dan hidup cukup lama. Yah, intinya saya dan mereka hidup cukup bahagia sampai terjadi tragedi yang membuat saya harus kehilangan para merpati.

Yak, saya sukses terkena penyakit kulit di muka gara-gara mereka (menurut diagnosis dokter). Ayah saya cukup marah saat itu, ketika dia pulang mendapati muka putrinya hancur lebur. Dan rasanya Queen dan Kaisar menyadarinya, mereka meninggal sebelum sempat dilepas. Prince dan Princess dilepas ke alam bebas. Dan saya pun melepas kepergian masing2 dengan (serius) berurai air mata.

Setelah masa burung merpati usai, di mulailah masa-masa jaya IKAN. Yap, ikan hias. Masa ikan berlangsung cukup lama, dan sempat bersinggungan masa kucing (yang akan diceritakan dengan lengkap di post berikutnya, sabar saja yak😛 ).

Ikan-ikan yang pertama saya pelihara adalah ikan sapu-sapu, ikan laying-layang, dan ikan2 hias kecil lainnya yang berwarna-warni indah menghiasi akuarium persegi panjang yang lumayan besar buat ukuran ikan-ikan sekecil itu. Apalagi dengan hiasan batu warna-warni, tiruan rumput laut dll, rasanya akuariumnya tampak cantik sekali *lebay

Hidup para ikan hias kecil terancam ketika mama saya membeli ikan baru yang bernama ikan hiu (bukan, bukan ikan hiu beneran, kecil kok cuman sekitaran 10cm). Awalnya mereka hidup berdampingan dengan aman damai sentosa, ketika pada suatu hari kami menyadari keanehan pada para ikan hias.

Ikan layang-layang A siripnya menghilang.

Ikan layang-layang B ekornya somplak.

Ikan layang-layang C baik sirip maupun ekornya somplak.

Ikan-ikan kecil mengambang mati mengerikan dan banyak terlihat bukti pengrusakan pada tubuhnya.

Bahkan ada ikan yang menghilang tanpa bekas. 

Yang masih aman tentram dan damai hanya ikan sapu-sapu dan… si ikan hiu yang jadi suspect utama. Saya dan mama saya langsung mengungsikan si ikan hiu ke akuarium bulet yang lebih kecil, dan berusaha menyelamatkan para ikan yang lain. Sayangnya, tak lama kemudian mereka lama-lama meninggalkan dunia ini. Maafkan kami yang tidak tahu kalo si ikan hiu benar-benar predator, maaf..

Akhirnya si ikan hiu dialirkan ke got demi kebaikan banyak pihak dan selesailah masa ikan hias kecil.

Masa berikutnya adalah ikan louhan yang saat itu sedang ngetrend banget. Saya ga terlalu suka sih, soalnya tampang menyebalkan, galak dan RAKUS. Makanannya sehari bisa lebih mahal dari uang jajan saya saat itu! *sebal* cuman emang rada lucu sih ngeliatnya makan, ada suara-suara kriuk-kriuk pas ikan lele mininya dikunyah.

Dan setelah kedua ikan louhan meninggal karena penyakit mata, ikan berikutnya adalah ikan mas koki biasa yang entah kenapa berkembang dengan SANGAT PESAT DAN GENDUT dalam kondisi akuarium yang sama sekali tidak terawat. Sumpah, bener2 ga terawat. Lumut dimana2, air kotor, dan entah kenapa mereka hidup selama setahun lebih, padahal saya meliharanya dari mereka masih seharga 5rban a.k.a. masih kecil banget, ampe sempet ditawar ama tukang ikan seharga 100rb (ga, ga dijual. Saya dan mama saya ga sekejam itu menjual teman bercanda kami kok *ditendang*)

Yah, setelah masa ikan hias sebenernya sih masa ikan louhan dan ikan mas koki bersandingan dengan masa kucing, tapi masa kucing itu panjang kalo diceritain, ntar post-yang-niatnya-cuman-formalitas-dan-curhat ini malah jadi artikel 8 halaman😛

OK, terima kasih atas kesediaannya membaca curhat indah bodoh saya ini, good bye and stay tuned!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: